Home » Karya » Cerpen » Sepucuk Surat Salah Alamat (S3 A)

Sepucuk Surat Salah Alamat (S3 A)

Cerpen:  Mohd. Nasir

Surat itu sudah dikirim Yong Nuar seminggu yang lalu. Menggunakan jasa POS. Menurut perkiraan, satu atau dua hari lagi akan sampai ke alamat yang dituju, seperti yang tertulis pada amplop depan. Atau, jangan-jangan sudah sampai, dan sudah dibaca oleh si penerimanya. Jika ya, ini bala besar di atas bala besar.

Yong Nuar menghenyakkan pinggulnya di kursi untuk melepas geram. Ia amat kesal karena kesilapan yang ia lakukan seminggu yang lalu. Hal itu sesungguhnya tidak boleh terjadi. Memang tidak boleh. Jauh-jauh hari beliau sudah berusaha agar kesilapan itu tidak terjadi. Tapi apa mau dikata.

Sejak pindah kerja di tempat tugas yang baru, Yong Nuar baru satu kali berkirim surat kepada Maimunah. Surat pertama, setelah 2 hari di tempat yang baru itu. Itu permintaan Maimunah yang disampaikannya sehari sebelum Yong Nuar meninggalkan kampung asalnya.

Pas 1 Minggu, surat itu sudah di tangan Maimunah. Itu diketahui Yong Nuar dari balasan surat yang dikirimkan Maimunah.

Seminggu setelah surat Maimunah diterima Yong Nuar, lelaki perlente itu langsung menulis surat kepada Maimunah. Surat kedua ini panjang sekali. Enam halaman kertas A4 dengan jarak satu setengah spasi. Hampir 3 malam baru selesai diketiknya dengan mesin tik yang dipinjamnya dari kantor tempat dia bekerja.

Yong Nuar harus menjelaskan sejelas-jelasnya kepada Maimunah, kenapa dia tidak menikahi Maimunah sebelum pindah tempat kerja kemarin. Itu memang permintaan Maimunah. Jika Yong Nuar tidak mau berterus terang, Maimunah akan meminta kepada pemimpin perusahaan tempat Yong Nuar bekerja, supaya Yong Nuar diberhentikan dari pekerjaannya.

Diberhentikan dari pekerjaan? Ini sesuatu yang sangat tidak diharapkan Yong Nuar. Apalagi kedudukannya sekarang semakin baik. Jumlah penghasilannya pun meningkat.

Meningkatnya kedudukan Yong Nuar di perusahaan itu, ada andil Maimunah. Maimunahlah yang minta kepada pimpinan perusahan agar jabatan Yong Nuar dinaikkan.

“Bisa Abah naikkan, tapi harus pindah. Dia jadi direktur pembantu perusahaan kita yang di Kota X,” kata Pak Burhan kepada anaknya Maimunah

“Tak apa, Bah. Di sana lebih aman,” jawab Maimunah.

Tak lama setelah itu, Yong Nuar pindah di Kota X sebagai direktur pembantu di cabang perusahan milik Pak Burhan itu.

Sehari sebelum berangkat, Yong Nuar dan Maimunah bertemu empat mata di sebuah ruangan di perusahan itu. Di situ mereka merancang rencana pernikahan mereka.

Isi surat itu adalah cerita ulang pertemuan mereka dan semua rancangan pernikahan. Sekarang surat itu tersalah amplop. Seharusnya, dia masukkan ke amplop yang tertulis alamat Maimunah, bukan amplop alamat istrinya.

Yong Nuar merasakan dunia ini seperti mau kiamat. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana memuncaknya kemarahan Zainab ketika membaca surat itu. Dia yakin, tidak ada istri yang tidak marah ketika tahu bahwa suaminya berencana akan menikah lagi. Apalagi, berita itu langsung disampaikan suaminya sendiri lewat sebuah surat.

Zainab memang sudah curiga, bahwa dipindahkan suaminya ke Kota X karena ada maksud-maksud tertentu. Memang, dengan pindah itu kedudukan Yong Nuar lebih baik dari sebelumnya. Tapi, tentu banyak masalah keluarga yang akan mereka hadapi. Apalagi, Yong Nuar terpaksa berpisah dengan istri dan anak-anaknya, walaupun untuk beberapa waktu.

Sebetulnya, sudah banyak informasi yang didapat Zainab tentang hubungan suaminya dengan Maimunah. Ada beberapa SMS yang masuk ke hp-nya, yang menyebutkan kedekatan suaminya dengan Maimunah. Namun, semua SMS itu tidak pernah ditanggapi Zainab. Dia anggap SMS tersebut.usaha orang-orang untuk mengacaukan rumah tangga mereka. Lagi pula, Zainab yakin, tidak mungkin Maimunah berminat pada suaminya. Menurut perkiraan Zainab, tidak ada faktor-faktor yang membuat Maimunah jatuh cinta pada Yong Nuar. Yong Nuar sudah beristri dan punya anak tiga orang. Rupa biasa-biasa saja. Juga bukan orang kaya. Sedangkan Maimunah masih muda, cantik, orang tuanya kaya. Perusahaan tempat suaminya bekerja itu milik bapak Maimunah.

Sekarang, enam lembar surat itu sebuah bukti tertulis bahwa suaminya dan Maimunah sudah merancang rencana pernikahan mereka. Apakah Zainab masih belum percaya juga? Apakah surat itu masih bisa dianggapnya usaha untuk orang untuk menghancurkan keluarganya? Bukankah surat itu ditulis oleh suaminya?

Pikiran Zainab jadi buntu memikirkannya.

Yong Nuar pergi Kantor POS. Beliau ingin memastikan apakah surat yang kirimnya kemarin sudah sampai dan diterima oleh si penerima. Jika belum diantar ke alamat, Yong Nuar minta agar surat itu dikembalikan ke Kota X. Dalam sepanjang perjalanan ke Kantor POS, ia tak henti-hentinya berdoa agar surat itu belum diantar ke alamat.

“O, sudah diantar, Pak. Ini sudah ada balasannya. Rencana tengah hari nanti kami antar ke alamat Bapak,” jelas petugas Kantor Pos begitu Yong Nuar menanyakan surat itu.

“Sudah ada balasannya?” Yong Nuar balik bertanya.

“Ya, Pak,” jawab petugas Kantor POS itu seraya berjalan ke meja tempat longgokan surat-surat masuk yang akan mereka antar hari itu.

Yong Nuar merasa badannya lemas mendengar jawaban petugas Kantor POS itu. Lebih lemas lagi akan menerima balasan surat dari istrinya.

“Hancur!” terlompat ucapan itu dari mulut Yong Nuar.

“Ini, Pak,” ucap petugas Kantor POS seraya menyodorkan surat itu.

Yong Nuar menerima surat itu. Tangannya gemeter.

“Ada apa, Pak?” tanya petugas Kantor POS ketika dilihatnya bibir Yong seperti tak berdarah.

Yong Nuar hanya menggeleng. Ia berjalan cepat-cepat, mencari tempat yang aman untuk membaca surat itu.

Yong Nuar tak sabar ingin membuka surat itu. Ia bergegas menuju sebuah bangku di samping Kantor POS. Tak ada orang duduk situ.

“Bismillahirrahmanirrahim!” ucap Yong Nuar saat membuka amplop surat dengan dada berdegup keras.

Secara perlahan, Yong Nuar menarik lembaran dalam amplop putih panjang itu. “Panjang sekali,” ucap hatinya begitu kertas surat sudah keluar dari amplop.

Yong Nuar heran, tak pernah dia menerima surat setebal itu dari Zainab. Lebih tebal dari suratnya yang tersalah kemarin. Setahu Yong Nuar, istrinya tak pernah menulis surat panjang. Dari sebelum mereka menikah, memang ia sudah tahu. Istrinya tak pandai menulis panjang-panjang. Bicaranya begitu. Tapi kenapa surat kali begitu tebal?

Yong Nuar membuka lembaran pertama. Lembaran ini terpisah dari lembaran yang lain. Tapi kertas surat sama dengan yang lain.

Ini surat singkat surat istri Yong Nuar.

Kepada Suamiku
Yong Nuar
di Kota X

Assalamualaikum.

Semoga Abang sehat dan bahagia sebagaimana kami semua di sini.

Yong, Zai tahu bahwa Abang tersalah dalam amplop surat. Begitu Zai baca alamat tujuan surat itu bukan nama dan alamat rumah kita, surat itu Zai tutup dan Zai masukkan ke dalam amplop baru. Setelah alamat si pengirim dan alamat tujuan selesai ditulis, Zai langsung kirim kembali ke Abang. Zai yakin, Abang keliru dalam menggunakan amplop. Ini jelas, karena alamat pada amplop berbeda dengan yang tertulis pada surat. Demi Allah, Zai hanya membaca alamatnya saja. Zai tak ingin membaca isinya karena Zai tahu, surat itu bukan untuk Zai.

Demikianlah, semoga Abang tetap berbahagia.

Dari istrimu, Zainab

Yong Nuar merasakan tubuhnya serasa terbang dan melayang-layang di angkasa. Suatu hal yang tak disangkanya, istrinya berbuat sejujur itu. Padahal, jika Zainab mau membaca isi surat itu, siapa yang melarangnya. Di amplop jelas nama dan alamat dia. Bila dibaca, tak berkurang sedikit pun. Apalagi jika difotokopi dan disimpan sebagai bukti kecurangan suaminya. Zainab tidak mau melakukannya.

Yong Nuar membuka surat enam halaman yang ditulis kemarin itu. Dibacanya dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Diulang-ulangnya sampai entah berapa kali baca. Dan terakhir, ia keluarkan korek api dari dalam saku bajunya. Tak lama kemudian, enam lembar surat itu hangus dimakan api.

“Zainab, besok Abang pulang. Biarlah Abang tinggal di kampung. Kita bertanam sayur saja. Ini lebih baik daripada Abang jadi orang Munafik,” ucap Yong Nuar membatin.

Sejenak kemudian, ia melangkah pulang. Terasa langkahnya ringan sekali.

Bengkalis, akhir tahun 2020

 

Mohd Nasir lahir di Rokan Hulu, Provinsi Riau 5 Juli 1960. Sejak Agustus 2020 memasuki masa purnabakti sebagai ASN.

Kegiatan menulis sudah dimulai sejak 1986 dengan berbagai bentuk karya. Ada yang berupa puisi, cerpen, dan artikel. Tulisan-tulisan waktu itu banyak dimuat di berbagai media yang terbit di Pekanbaru, Medan, Padang, dan beberapa media masa yang terbit ibu kota Jakarta. Dari tahun 1991 hingga 2007 sering mengikuti berbagai lomba dan sayembara menulis yang diselenggarakan di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Dalam kegiatan lomba dan sayembara tersebut sering terpilih menjadi pemenang tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Untuk tingkat nasional pernah 6 kali diundang oleh Pusat Perbukuan sebagai pemenang penulisan naskah buku bacaan. Pernah terpilih sebagai penulis cerpen terbaik tingkat nasional kategori guru SMA pada tahun 2002. Hingga saat ini sudah punya 15 dan 16 antologi. Sekarang menjadi Kordinator Perkumpulan Rumah Seni Asnur untuk Provinsi Riau dan menjadi mentor dalam beberapabuku antologi yang diterbitkan oleh PERRUAS.

 

Tags in